Kamis, 06 Maret 2014

Maaf..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 06.02 0 komentar
Sebenernya ini saya tulis supaya lega..
Karena seminggu ini, jujur aja saya merasa kacau sekali..
Iya. Banyak pikiran. Banyak deadline. Banyak jadwal.  Semuanya numpuk di kepala. Menuntut untuk diselesaikan. Akibatnya? Iya. Sering marah gajelas. Sering bikin orang bete. Jadi, ini surat maaf untuk semua orang yang sakit hati gara-gara kelakuan saya..

Untuk himpunan yang sering saya abaikan.. Maaaaaaaaaaaaaf.
Untuk tim PKM: Mas Agus, Mas Dimas, Putu, maaf banget belum bisa jadi pemimpin yang baik..
Untuk tim PKM Mas Risal: Maaf banget nget nget belum bisa bantu apa-apa sampai sekarang..
Untuk anak-anak AGEENT: Mungkin kalian tersinggung atau gimana sama kelakuanku. Jadi maaf banget. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaaaaaaaaf.
Buat orang-orang yang chat dan smsnya saya abaikan, maaf juga. Saya hanya tidak ingin menyakiti. Semoga kalian menghargai keputusan saya.
Buat temen-temen kos. Maaf sudah melalaikan janji main. Maaf sudah jadi orang sok sibuk. Maaf..
Buat layli. Maaf parah selalu lupa mampir.
Juga buat kamu juga. Maaf. Maaf. Maaf.

Semoga kalian semua mengerti..

Maaf untuk Kalian Semua..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 05.34 0 komentar

Sabtu, 15 Februari 2014

Dear My Future Husband

Diposting oleh Your Sunday Morning di 05.31 0 komentar
Selamat malam calon imamku..
Tunggu.. Tunggu..
Aku sedang tertawa keras membaca judul tulisanku ini..
Kenapa?
Karena aku bahkan tak tahu rupa penerima suratku ini..
Iya, kamu masih kabur calon imamku..
Kamu masih disembunyikan Allah sekarang..
Benarkan?
Tapi aku sungguh berharap kamu membaca surat ini sebelum membacakan ijab qabul untukku kelak..
Kenapa? Karena aku tidak ingin kamu menyesal memilihku..

Untuk calon imamku yang entah dimana sekarang..
Ada banyak sekali hal yang ingin kubagi denganmu..
Tolong baca pelan-pelan..
Baca dengan sabar dan teliti..
Supaya kamu benar-benar tahu seperti apa aku..

Untuk calon imamku,
calon mamummu ini nakal sekali..
Waktu SMA dulu sering dikeluarkan dari kelas gara-gara lupa mengerjakan PR..
Waktu SMP pernah masuk BK gara-gara menyiram teman saat ulang tahun..
Waktu SD sering disuruh berdiri di depan kelas gara-gara ramai sendiri waktu pelajaran..
Daaan sederet kenakalan lain yang tidak bisa calon makmummu tulis di sini..

Calon makmummu ini juga pikunan.
Keras kepala..
Cengeng..
Cerewet setengah mati..
Cemburuan..
Berantakan..
Tukang panik..
Phobia darah..
Pecinta drama..
Haha lihat, calon makmummu ini kekanakan sekali kan?

Untuk calon imamku,
calon makmummu ini benar-benar banyak kurangnya..
Kamu tahu? Calon makmummu ini masih sering bergosip dengan teman-temannya..
Kadang, masih mengumpat secara tak sengaja..
Juga masih belum bisa berhijab dengan benar..
Calon makmummu masih belajar sekarang..
Terus belajar memperbaiki dirinya..
Supaya nanti, saat kamu meminangku, aku sudah sedikit lebih pantas bersanding denganmu..

Calon imamku yang masih abu, kalau memang kamu jodohku, aku harap kamu mencintaiku dengan segala kekuranganku itu..
Semoga Allah menyegerakan semua yang baik itu ya..

Dari calon makmummu..

PS: Ternyata, di akhir surat ini air mataku mengalir deras, entah kenapa..




Senin, 10 Februari 2014

Jangan Lelah..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 18.50 0 komentar
Untuk yang selalu mendengar keluh kesah..
Untuk yang senantiasa melambungkan asa di tengah harapan yang menyisa..
Untuk yang selalu sabar menerima rengekan..

Hai!
Selamat pagi..
Sedang apa tan?
Aku rindu..

Mungkin ini akan jadi surat yang alay..
Tapi yah, aku memang rindu..
Dan kalau kamu pengen tau, iya aku menyesal Jumat kemarin..
Aku menyesal nggak menuruti apa yang kamu, dan teman-teman bilang kemarin..
Aku menyesal jadi batu..
Sekarang aku lagi mikir, mungkin otakku memang dibuat dari batu sampai aku sekeras itu..

Tan, terimakasih ya sudah selalu mau mendengar..
Terimakasih juga sudah mengajari untuk terus pengertian..
Yah, aku memang nggak pernah pengertian kan?
Kekanakan. Padahal umur udah tua..
Jadi gimana bisa orang-orang ngertiin aku?

Anyway tan, aku suka iri kamu  punya Gany..
Trust me, aku kaya liat pasangan di film-film romantis tiap liat kamu yang punya Gany..
Maksudku, aku iri kamu bisa sepengertian itu sama Gany..
Dan yah, iri karena Gany mau nunggu selama itu buat kamu..
Semoga aku juga bisa seperti kalian ya..
Aku tunggu undangannya..

Tan, sekali lagi terimakasih..
Jangan lelah mendengarku ya..

Dari temanmu yang cengengnya setengah mati..

PS: Harusnya aku gaperlu tanya kamu sedang apa. Sedang memikirkan Gany kan pastinya :p

#30HariMenulisSuratCinta

Minggu, 09 Februari 2014

Yang (katanya) Berhati Beku

Diposting oleh Your Sunday Morning di 19.32 0 komentar
Hai..
Selamat pagi..
Sedang apa?
Mengaduk-aduk ingatan masa lalu dalam segelas susu kah?
Atau tengah berpikir untuk membeli gelas dan cangkir baru untuk mengganti suasana?
Atau malah ingin terus menyimpan gelas dan cangkir lamamu sebagai kenangan?
Sebagai penanda bahwa, kamu pernah tertawa, tersenyum  malu-malu saat menggenggamnya?

Jangan tertawa..
Haha atau malah kamu sedang mencebik sekarang? Sambil mengerutkan kening bingung?
Entahlah..
Pikiranmu terlalu susah untuk dibaca..

Untu kamu yang (katanya) berhati beku..
Berhentilah sebentar..
Jangan sibuk berlari..
Jangan terus mencari..
Mungkin, saat kamu berlari kemarin, kamu melewatkan sesuatu..
Sesuatu yang tanpa sadar kamu cari..
Sesuatu yang mungkin menggenapkan yang hilang di hatimu..

Untuk kamu yang (katanya) berhati beku..
Percayalah, aku menahan tawa saat menulis ini..



Dari temanmu yang setengah galau..

PS: Sebenarnya aku nggak pernah percaya hatimu beku. Kamu yang nganterin telor ceplok waktu aku sakit. Ingat? :p


#30HariMenulisSuratCinta

Jumat, 07 Februari 2014

Jangan Bunuh Diri!

Diposting oleh Your Sunday Morning di 19.00 0 komentar
Untuk yang terus menerus memendam sakit..

Hai!
Pagi ini saya sedang ingin melihat ke bawah..
Untuk lebih bersyukur..
Untuk lebih menghargai segala rasa yang dianugerahkan Allah pada hambanya ini..

Sebelumnya, saya peringatkan dulu bahwa mungkin, surat ini akan bertele dan membosankan..
Tapi saya juga perlu mengingatkan, bahwa setelah membaca surat ini, insyaallah kita akan berpikir untuk lebih bersyukur..

Jadi begini, siang itu, setelah rapat himpunan jurusan saya, saya dan teman-teman bingung ingin melakukan apa..
Pulang ke kos, maka yang akan terbayang dalam otak kami semua adalah sekumpulan diktat kimia yang akan diujikan beberapa hari setelahnya..
Maka kami memutuskan untuk makan di suatu tempat yang..
Yah, mahasiswa banget lah.. Haha..

Dan karena saya memang cupu alias tidak bisa membawa motor, maka saya dibonceng oleh salah seorang teman saya..
Teman saya ini, yah bisa dibilang saya kagum dengannya..
Dia bukan orang Jawa, tapi sudah fasih sekali menggunakan bahasa Jawa..
Apalagi misuhnya.. haha
Oke, lupakan soal itu..

Sebelumnya saya harus menceritakan bahwa saya termasuk orang yang cerewet sekali sehingga sepanjang perjalanan yang memang lumayan jauh, saya dan teman saya (sebut saja Be) mengobrol ngalur ngidul soal banyak hal..
Salah satunya adalah tentang kisah percintaan si Be ini..

Be sekarang tengah berpacaran dengan seorang laki-laki yang kebetulan juga sejurusan dengan kami (sebut saja Al).
Be dan Al, pasangan yang serasi sekali menurut saya.
Hanya saja, sangat disayangkan mereka memiliki perbedaan yang mungkin tidak bisa ditolerir dalam sebuah hubungan.
Ya, benar.Agama.
Al penganut islam yang taat. Sementara Be, adalah seorang penganut Hindu yang juga taat terhadap aturan-aturan agamanya..


Be mengaku, Al adalah pacar ketiganya (kalau saya tidak salah ingat)..
Pacar pertamanya, baik sekali..
Be sayang sekali. Tapi sedihnya, Be malah ditinggalkan. Dan Bela frustasi sekali waktu itu..
Bahkan, saya kaget saat Be mengaku sempat melakukan beberapa percobaan bunuh diri..
Dari cerita itu saya percaya bahwa, yah ternyata patah hati memang bisa membelokkan pikiran jernih manusia..
Bahwa ternyata, percobaan bunuh diri karena gagal cinta itu benar-benar ada..
Tapi toh sampai sekarang si Be masih hidup..
Masih setia menyelipkan misuhnya di percakapan line kami..
Yang berarti Be masih punya sisa akal sehat yang membuatnya membatalkan semua aksi gilanya itu..

Pacar keduanya, Batu. Kita skip saja. Kalian pasti sudah mulai bosan kan?

Pacar ketiganya, si Al itu. Be menceritakan bahwa Al berbeda. Bawel tapi sangat perhatian. Dan saya bisa melihat bahwa Be sudah mengidap gejala cinta mati pada Al..
Tapi seperti yang saya bilang tadi, mereka berbeda..
Saya tidak ingin menyalahkan atau bagaimana..
Toh tidak pernah ada yang salah dengan mencintai, dan dicintai..
Karena saat memilih untuk jatuh, cinta tidak pernah bertanya pertanyaan seperti "Siapa Tuhanmu?" lebih dulu..
Toh juga ada banyak sekali pasangan dengan masalah yang sama di luar sana..
Dan mereka mencoba untuk tidak peduli..
Atau belum mau peduli..

Tapi ini sangat berbeda ketika masalah tersebut terjadi pada teman kita sendiri..
Seperti yang saya bilang tadi, Be dan Al adalah pasangan yang sangat serasi..
Bukan hanya saya, tapi saya yakin teman-teman lain juga mendoakan bahwa mereka akan berjodoh nanti..
Bahwa entah bagaimana caranya, mereka akan bersama seterusnya nanti..
Tidak berpisah seperti yang terus menerus dipikirkan Be..
Bahkan, yang membuat saya miris adalah ketika Be mangaku bahwa sekarang, doanya setiap hari adalah agar ia dan Al mati bersama sebelum benar-benar memutuskan berpisah..
Miris, dan entah bagaimana semua itu menohok saya dalam sekali..
Lihat.. Ternyata semua masalah saya tidak ada apa-apanya kan?
Ternyata saya masih harus banya-banyak bersyukur untuk semua yang saya punya..

Untuk Be yang terus-menerus tersakiti, saya harap kamu masih terus bertahan..
Saya harap kamu masih mau terus mencari jalan..
Saya harap kamu masih mau terus berusaha..
Hidup ini indah kan?







Kamis, 06 Februari 2014

Untuk Hati Yang Baik

Diposting oleh Your Sunday Morning di 01.45 0 komentar
Untuk hati yang baik, terimakasih sudah sabar menunggu..
Terimakasih sudah senantiasa melapangkan dada ketika semua emosi menderu..
Terimakasih sudah senantiasa mewujudkan selengkung senyum meski kamu membeku..
Terimakasih, belum mematikan semua rasa yang bersarang di dalammu..

Untuk hati yang baik, maaf membuatmu kepayahan belakangan ini..
Maaf karena semua kebimbangan tak bertuan ini..
Maaf untuk semua resah yang terus membayangi..

Untuk hati yang baik, aku bersyukur Allah menitipkanmu padaku..
Aku bersyukur, Allah memercayakanmu untuk bersarang dalam tubuhku..
Aku bersyukur, Allah memberikan hati sekuat kamu..

Untuk hati yang baik, Allah sudah berjanji menciptakan kamu berpasang-pasang..
Kamu tidak akan sendiri, nanti..
Jadi, kamu masih sabar menunggu kan?
Karena sepertinya, hati yang kamu tunggu masih sibuk bermain..
Masih sibuk mencari, sama seperti kamu..
Jadi, kamu masih akan tetap di sini kan?


#30HariMenulisSuratCinta

Rabu, 05 Februari 2014

Seperti apa?

Diposting oleh Your Sunday Morning di 02.25 0 komentar
Kadang, di sela-sela semua pemikiranku tentangmu, aku bertanya-tanya..
Seperti apa rasamu untukku?
Apakah seperti saat kamu membuka mata di minggu pagi?
Atau seperti saat selesai kuliah di jum'at malam?
Atau seperti manyesap teh di sore yang dingin?
Atau malah seperti saat kamu menghabiskan ice cream?

Kenapa?
Karena aku selalu suka saat-saat seperti itu..
Karena aku selalu tersenyum di saat-saat itu..
Karena aku selalu bahagia di saat-saat itu..

Dan aku hanya berharap, kamu mengingatku dengan cara yang menyenangkan seperti itu..
Dengan rasa bahagia seperti itu..
Aku hanya berharap..
Salah?

#30HariMenulisSuratCinta

Senin, 03 Februari 2014

Yang Berlarian Dalam Kepala..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 16.27 0 komentar


Selamat pagi..
Untuk kamu yang senantiasa berlarian dalam kepala..
Kamu yang senantiasa menjadi pengatur segala rasa..
Kamu, yang entah merasa atau tidak..

Apa kabar? Baikkah?
Seperti doa yang diam-diam kurapal..
Seperti rindu yang entah bagaimana selalu mewujud asa..

Aku di sini kalau kamu ingin tahu..
Aku berdiam disini..
Jadi jangan berlari hanya untuk kucari..
Aku di sini..
Jadi tidak bisakah kita tidak saling mendustai?
Jadi tidak bisakah kita tidak saling melukai?



Rabu, 22 Januari 2014

Untuk semua detikku yang entah kemana..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 01.17 0 komentar
Untuk semua detikku yang entah kemana..
Maaf, untuk menganggurkanmu begitu saja kemarin..
Maaf untuk menyia-nyiakannmu untuk menatap sesuatu yang senantiasa bergeming itu..
Menatap sesuatu yang selalu kuharap menyala, mengirimkan sedikit saja kabar dari ujung sana..

Untuk semua detikku yang entah kemana..
Sekali lagi maaf untuk tak mengindahkan semua tandamu..
Maaf untuk menutup rapat telingaku.
Maaf..
Sekarang bisakah kau kembalikan semuanya untukku?

Jumat, 28 Juni 2013

Sebuah Bingkai..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 05.39 0 komentar

Ini soal tawa yang kita sembunyikan rapat-rapat..
Ini soal cerita yang kita simpan diam-diam..
Ini soal harapan yang mulai memudar..
Ini soal asa yang kita kubur dalam-dalam..
Soal kita..
Yang tinggal waktu untuk menjadi kenangan..


Mungkin ini bingkai pertama dan terakhir kita..
Mungkin ini titik balik untuk menjadi kita sebelumnya..
Mungkin seperti inilah kita seharusnya..

Kita tak bisa mencetak kolase..
Hanya satu ini..
Aku hanya punya satu ini..
Akan kusimpan..
Untuk kukenang..
Dan kutertawakan suatu hari nanti..

Jumat, 10 Mei 2013

My Nineteen..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 00.48 0 komentar
Untuk sembilan belas tahunku yang luar biasa..

Terimakasih..
Untuk semua canda..
Untuk semua luka yang pernah ada..
Untuk semua pelajaran..
Untuk semua hal berharga yang ada..
Terlebih, untuk semua orang di sekelilingku yang luar biasa..

Terimakasih..
Tak ada kata lain yang mampu kuucapkan..

Terimakasih..
Untuk masa lalu, hari yang begitu indah ini, dan hari-hari di masa depanku nanti..

Terimakasih Ya Allah..
Terimakasih untuk semua harapan yang terus menopangku..
Untuk semua doa yang KAU jawab..
Yang KAU kabulkan lebih indah dari yang kumau..
Untuk waktu-waktu penantianku..

Terimakasi Ya Allah..
Telah menjadikanku pemimpi yang tak pernah lelah menanti..
Telah menjadikanku seperti ini..
Seorang Aginta Friska Mahartika yang tersenyum setiap hari..

Rabu, 01 Mei 2013

NOL

Diposting oleh Your Sunday Morning di 15.59 0 komentar


            Seperti bunga yang mengikuti arah matahari.. Seperti itulah rasaku.. Menuju hatimu..
            “Aku suka cewek yang menggerai rambutnya. Cantik. Anggun..”
            Aku membuka mulut beberapa saat, lalu menutupnya lagi. Balasan semacam ‘Menggerai rambut itu gerah, ribet.”  kutelan begitu saja. Kumakan sendiri. Karena aku tahu, besok tentu saja aku akan mengikuti apa maumu. Menggerai rambut panjangku..
Besoknya, ketika kamu melihat gadis dengan rok-rok panjang, kamu berkata lagi. “Perempuan yang pakai rok itu manis ya.. Keliatan dewasa.. Sedap dipandang mata.”
            Aku hendak membalas, ‘Pakai rok itu nggak bisa gerak bebas.”. Tapi lagi-lagi, kutelan sendiri kata-kata itu. Karena aku tahu, malam ini aku akan ke toko baju, membeli rok yang cantik, lalu memakainya besok.
Besoknya lagi, ketika kita makan di salah satu cafe, kamu berkata “High heels itu selalu membuat kaki perempuan berkali-kali lipat lebih indah.”
Kata-kata itu sudah hampir terlontar. ‘High heels itu menakutkan. Nggak bisa dipakai jalan cepat.’ Tapi sia-sia. Aku kembali memendamnya. Karena aku tahu, nanti malam pasti aku akan meminjam high heels ibuku. Lalu memakainya besok.. Untukmu..
Ya, selama ini, aku tak pernah lelah melakukan semuanya untukmu. Menelan, memendam sendiri inginku. Tapi sekarang aku bertanya-tanya. Kapan kamu akan melihatku?

Aku sedang menghitung waktu.. Menanti saat hatimu mempertimbangkanku..
            Suatu hari, Riena, salah satu temanku di kelas managemen, bertanya padaku. “Kania, kamu suka sama Azhar?”
            Aku diam sebentar, lalu tersenyum. Semua orang tahu tentang perasaanku itu. Kedekatan kami dua tahun ini menceritakan semuanya tanpa aku perlu repot-repot menjelaskan. Ya, semua orang. Kecuali Azhar sepertinya.
            “Kamu udah bilang sama dia?”
            Aku hanya menggeleng. Mengatakan padanya bahwa aku mencintainya? Yang benar saja!
            “Mencintai sendiri itu nggak pernah enak. Menyiksa. Mending kamu cepat bilang. Kalau dia nggak suka, kamu bisa mundur. Daripada jadi perkara.”
            Aku termenung mendengar perkataan Riena yang lumayan menohok barusan. Riena memang seperti itu. Ia jarang bicara. Tapi sedikit saja ia mengeluarkan suara, kata-katanya tajam dan langsung mengena. Tapi.. bukankah apa yang dikatakan Riena barusan ada benarnya? Bahwa jujur saja, mencintai sendiri itu tidak mudah.. Bahwa terkadang, mencintai sendiri itu melelahkan..
            Jadi apa yang harus aku lakukan? Menemui Azhar dan mengatakan semua yang kurasakan terhadapnya? Rasanya itu adalah hal terakhir yang ingin kulakukan di dunia ini.

Ketika senja.. Ketika hujan menebar aroma wanginya.. Ketika itulah kau datang..
            “Boleh aku duduk?”
            Aku mengangkat kepala dan menemukan seorang laki-laki dengan tubuh setengah basah berdiri di hadapanku. Di luar hujan sedang turun rintik-rintik. Mungkin laki-laki itu baru saja menerobos hujan.
            “Silahkan,” sahutku sambil menggeser posisi tubuhku. Tempat duduk lain di halte ini memang sudah penuh. Sebagian diisi orang-orang yang berteduh, menunggu hujan berhenti. Sepertiku.
            Laki-laki itu segera duduk. Tangannya langsung sibuk menekan-nekan tombol di ponselnya. Sesekali juga melirik jam tangannya. Terlihat sibuk sekali. Sama sekali tak memperdulikan tetes air yang jatuh dari bajunya yang setengah basah.
            “Ini.” Entah bagaima caranya, aku mengangsurkan sebungkus tissue pada laki-laki itu. Biasanya aku tak pernah begini. Entahlah.. Aku hanya merasa setidaknya ia perlu mengeringkan wajahnya yang kuyup karena air hujan.
            Laki-laki itu menatap sebungkus tissue itu dengan kening berkerut, kemudian menatapku sebentar. Sejurus kemudian ia meraih sebungkus tissue yang kuangsurkan. “Terimakasih,” ucapnya sambil tersenyum sekilas.
            Aku hanya menganggguk, lalu bemaksud kembali menekuni novel dalam pangkuanku. Tapi belum sempat niat itu terlaksana, mataku menangkap sesuatu yang sepertinya kukenal melekat pada laki-laki di sebelahku. Karena itu, aku kembali menoleh. Meneliti laki-laki di sampingku itu dengan seksama. Dan benar saja. Laki-laki itu mengenakan jaket himpunan jurusanku!
            “Manajemen UNAIR?”
            Laki-laki itu kembali menoleh. Dahinya berkerut samar mendengar pertanyaanku. “Iya.. Punya kenalan?”
            “Saya juga manajemen UNAIR.”
            Untuk sesaat, mata laki-laki itu membulat. Dan saat itulah aku menyadari bahwa laki-laki itu mempunyai warna bola mata cokelat muda yang indah sekali. Senada dengan kulitnya yang kecokelatan. “Oya? Angkatan berapa?”
            “2012,” sahutku pelan sambil berusaha menerka angkatan berapa laki-laki di sampingku ini.
            Laki-laki itu mengangguk-angguk. “Oh.. Pantesan kayak pernah lihat,” ujarnya lalu mengulurkan tangan. “Aku Azhar. Angkatan 2012 juga,” lanjutnya sambil tersenyum lebar.
            Untuk beberapa detik aku serasa tersihir dengan senyumannya. Sebelum akhirnya menjabat tangan besar yang hangat itu. “Kania.”
            Dan begitulah. Di tengah rintik hujan yang mulai menipis.. Di tengah aroma tanah yang ditinggalkan hujan.. Cinta mulai tersemai. Di hatiku. Entah bagaimana di hatinya..

Aku suka melihat pelangi dengan tumpukan warnanya.. Kau juga suka..
Aku suka membayangkanmu yang penuh warna saat melihatnya.. Apakah kau juga?
            “Zhar kamu udah ngerjain laporan managemen?” Aku bertanya sambil membolak-balik lembar-lembar laporan di tanganku.
            “Belum,” jawab Azhar singkat.
            “Sama sekali?”
            “Iya. Kan kita belum survey lokasi.”
            Dahiku mengernyit. Tunggu. Survey lokasi? “Itu kan tugas statistik.”
            Tak ada sahutan dari Azhar, membuatku mengangkat kepala. Dan yang kulihat setelahnya adalah pandangan Azhar yang mengarah pada satu titik. Tak ada kedipan dalam jangka waktu yang lama. Ketika aku mengikuti arah pandangannya dan mengetahui objek yang daritadi dipandanginya, dadaku mendadak sesak. Oksigen seakan lenyap dari peredaran. Dia.. Seseorang yang ditatap Azhar. Seseorang yang selalu ditatap Azhar. Seseorang yang ternyata, masih saja ada dalam pantulan matanya. Naira.. Mantan kekasihnya.
            Sudah setahun lebih Azhar putus hubungan dengan Naira. Waktu yang cukup lama untuk melupakan semuanya kurasa. Tapi ternyata aku salah. Bagi Azhar, waktu selama itu tak berarti apa-apa. Tak mengurangi sedikitpun rasanya untuk gadis itu. Tak mengurangi hasratnya untuk kembali bersama gadis itu. Dan tentu saja, tak membuatnya berpaling sama sekali.
            Yah, tentu saja. Untuk apa Azhar berpaling dari gadis sesempurna itu? Gadis yang membuat semua gadis di sekelilingnya menyimpan iri dalam hati karena kesempurnaanya. Tak usah dijelaskan seperti apa. Yang jelas, Naira adalah cerminan gadis sempurna yang seharusnya hanya ada dalam cerita-cerita fiktif, cerita-cerita yang kadang tak masuk akal.
            Aku menunduk dalam-dalam. Menyembunyikan mataku yang mulai basah. Sudah dua tahun aku mengenal Azhar. Yang artinya, sudah dua tahun pula aku menyimpan rasaku sendiri. Setahun pertama terlewati dengan sangat sulit karena Azhar masih bersama Naira. Yang artinya, aku harus pandai-pandai menjaga perasaan. Tahun kedua, setahun ini tepatnya, kurasa akan lebih mudah karena Azhar dan Naira putus hubungan dengan alasan yang tidak jelas. Tapi lagi-lagi, aku salah. Ini jelas tak lebih mudah dari sebelumnya. Mereka memang putus hubungan. Tapi pikiran Azhar justru semakin melekat pada Naira. Dan tentu saja, tak ada ruang untukku dalam pikirannya. Dan aku mencoba untuk sabar. Menunggu Azhar siap menerima cinta baru dalam hidupnya. Tapi belakangan ini aku sering bertanya-tanya. Sampai kapan aku harus menunggu?

Katanya, cinta tak pernah membuatmu menunggu..
Lalu disebut apa waktu yang selama ini kuhabiskan untukmu?
            “Kamu masih belum bilang ke Azhar soal perasaanmu?”
            Suara Riena mengusik lamunanku. Aku menarik napas pendek. Kesal. Kenapa belakangan ini Riena selalu memilih bangku di sebelahku? Masih banyak bangku lain!
            Aku diam saja. Memilih tak menjawab pertanyaannya.
            “Kamu nggak sedang menunggu kan? Menunggu Azhar mencintaimu maksudku,” ujar Riena.
            Bukan urusanmu! Sebenarnya itu yang ingin kukatakan. Tapi segera kuurungkan. Aku sedang kehilangan mood untuk melakukan apapun. Termasuk meladeni semua omong kosong Riena.
            “Cinta nggak pernah membuatmu menunggu. Kalau kamu merasa sedang menunggu, kamu nggak benar-benar mencintainya. Karena setidaknya, cinta tak pernah membuatmu merasa menunggu.”
            Aku masih diam mencerna kata-kata Riena barusan. Menunggu? Itukah yang kulakukan selama ini? Menunggu Azhar melihatku? Menungggu Azhar memberikan kesempatan untukku? Menunggu Azhar membuka hatinya untukku? Kalu bukan menunggu, lantas disebut apa semua waktu yang keberikan untuk Azhar? Disebut apa semua perubahan yang kulakukan untuk Azhar?
            “Harapan.. Semua waktu yang kamu berikan itu adalah harapan kalau kamu benar-benar cinta,” sahut Riena seakan tahu pertanyaan yang menari-nari dalam kepalaku. Aku jadi curiga kalau Riena ini sebenarnya adalah cenayang karena daritadi ia tahu apa yang sedang kupikirkan.
            “Mencintai sendiri itu sama dengan nol.” Riena kembali berujar, membuatku diam-diam mendengarkannya. “Sebanyak apapun kamu mengumpulkan angka nol, hasilnya sama saja. Sia-sia.”
            Aku terhenyak mendengar perkataan Riena. iena Kata-katanya barusan benar-benar menghujam tepat di ulu hatiku. Nyeri. Bukan karena tersinggung. Tapi nyeri karena aku menyadari bahwa apa yang dikatakan Riena adalah benar. Nyeri karena menyadari bahwa, memang apa yang kulakukan selama ini sia-sia. Bahwa mencintai sendiri itu tak ada gunanya. Bahwa selama ini aku hanya sibuk menunggu dan mengurusi hatiku yang tak juga terpaut. Bahwa aku ternyata tak pernah berusaha maju.
            “Katakan.. Atau berhenti sebelum terlambat,” pungkas Riena sebelum membuka diktat kuliahnya. Lalu seakan tenggelam di dalamnya.
            Angin bertiup pelan dari jendela besar di sebelahku yang tadi sengaja kubuka. Segar. Menyapu tetes-tetes keringat yang sempat mampir di ujung-ujung kulitku. Mataku menatap lurus Azhar yang sekarang tengah tertawa-tawa di barisan depan bersama beberappa teman lelakinya. Dan pikiran itu muncul di kepalaku. Cepat. Tegas. Meminta untuk segera dikerjakan.
            Akuu harus membuat keputusan. Sekarang. Seperti kata Riena, katakan.. atau berhenti sebelum terlambat..


Saat sendiri, aku selalu bertanya-tanya..
Kapan kau akan mengulurkan tanganmu padaku?
Menepis semua sepi di hatiku..
Saat jauh darimu, aku selalu bertanya-tanya..
Akankah kau merindukanku?
Seperti aku yang rasanya dicekik rindu setiap waktu..
Saat berdiri di hadapanmu..
Aku hanya berharap satu..
Semoga kau cepat melupakan masa lalumu..

Jumat, 12 April 2013

Membenciku Itu Mudah..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 05.06 0 komentar

Membenciku itu mudah..
Cukup acuhkan aku..
Maka aku akan hilang dari hidupmu..



Membenciku itu mudah..
Cukup palingkan wajahmu..
Maka aku akan melangkah meninggalkanmu..



Membenciku itu mudah..
Jangan tersenyum padaku..
Maka aku akan membeku, bisu, tak kuasa menyapamu..



Membenciku itu mudah..
Cukup cukup tinggalkan aku..
Maka aku akan diam di tempatku..
Tak kuasa menahanmu..


Membenciku itu mudah..
Begitu mudah hingga kau tak akan pernah merasa tengah membenciku..
Begitu mudah hingga kau tak akan merasa kehilanganku..
Begitu mudah, karena sesungguhnya, aku kasat mata bagimu..

Membenciku itu mudah sayang..
Karena aku hanya sepotong daun..
Sepotong daun yang akan gugur pada waktunya..
Lalu hilang tanpa meninggalkan rasa..

Aku.. Di belakangmu..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 04.46 0 komentar

Aku ada di belakang.. Kalau kau ingin tahu..
Aku ada di belakang.. Kalau kau ingin melihatku.
Aku ada di belakang.. Kalau kau ingin tersenyum padaku..

Kenapa aku ada di belakang?
Mudah saja. 
Karena aku ingin diam-diam melihatmu..
Karena aku ingin kau tak pernah tahu, seberapa sering aku melirik punggungmu..
Karena aku ingin kau tak pernah tahu, diam-diam aku masih berharap kau dan aku jadi satu..

Katakan aku bodoh.. Tolol..
Tapi memang seperti itulah aku..
Seperti itulah yang hatiku mau..

Maaf kalau aku lagi-lagi mengganggu..

Maaf kalau aku tak henti mengusik hidupmu..
Aku hanya ingin kau tahu..
Bahwa aku senantiasa berdoa..
Untuk harapan yang selalu kubilang semu..

Kamis, 07 Februari 2013

Mereka yang Menghangatkanku..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 16.25 0 komentar
Kali ini aku ingin menulis catatan kecil untuk mereka yang menghangatkanku beberapa bulan ini..
Sahabat, sekaligus keluarga baruku..
Mereka.. Tujuh orang sahabatku..

Jujur saja aku tidak tahu ingin menulis apa, dan bagaimana aku harus menulis untuk mereka..
Terlalu banyak yang ingin kukatakan..
Tapi tentu saja terimakasih adalah yang utama..

Terimakasih untuk hari-hari dalam lima bulan terakhir yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata..
Hari-hari penuh tawa, walau kadang terselip sedikit amarah dan air mata..
Tapi aku sangat sangat menikmatinya..

Terimakasih untuk semua cerita, semua rasa yang membuatku tak pernah kehilangan kehangatan di kota yang terkenal dengan suhu dinginnya ini..
Dan yang terpenting, terimakasih karena sudah mau bersamanku, mendengarkan ocehan tak pentingku, keluh kesahku, dan sering juga tangisku..
Terimakasih..
Andai saja aku punya kata selain itu..
Kata yang bisa mengungkapkan betapa aku merasa beruntung bisa bertemu kalian semuua..
Ya, kalian. Putu, Fira, Priska, Lia, Emak, Ifa, dan Nila..
Kata yang bisa mengungkapkan keindahan ditengah keberagaman..

Dari sahabat kalian yang tak pernah bisa diam..

Selasa, 05 Februari 2013

Dear Masa Depan..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 17.30 0 komentar



















Untuk masa depanku..
Apa kabar? Baik-baik sajakah?
Ah baiklah.. Aku memang tidak pandai merangkai kata pembukaan..
Coba katakan aku harus mengatakan apa..
Coba katakan aku harus bagaimana agar kau mau tersenyum kepadaku?

Begini saja? Benarkah? Ah.. Terimakasih sekali..


Masa depanku.. Bolehkah aku mengintip apa yang terjadi esok, lusa dan seterusya?
Bolehkah aku mengintip siapa yang akan kutemui esok? Bolehkah aku melihat silet-siluet orang yang kutemui esok? Dan ah.. bolehkah aku sedikit.. sedikit saja mengintip siapa orang yang Tuhan siapkan untukku?

Tidak boleh? Ah... Sungguh tak asik sekali dirimu..

"Agar harimu selalu menyenangkan.Agar kau tak kehilangan harapan.."

Ah.. Alasan yang bagus sekali. Tapi bukankah benar? Tuhan menciptakan kemarin, saat ini dan esok hari adalah untuk alasan tersebut bukan? Agar kita tidak pernah kehilangan harapan.. Agar hidup kita menyenangkan..

Untuk kalian yang selalu tersenyum mengyongsong datangnya pagi..

Minggu, 03 Februari 2013

Pertanyaan Untuk Semesta

Diposting oleh Your Sunday Morning di 16.26 0 komentar

Dear semesta, baik-baik sajakah dirimu?  Sehatkah? Mohon maafkan bila sesamaku membuat keadaanmu buruk.. Kudengar  es di kutub semakin memburuk.. Sungguh, aku meminta maaf mewakili sesamaku untuk itu.

Dear semesta. Aku mengirim surat hari ini bukan hanya untuk itu. Aku ingin bertanya padamu.  Berpuluh-puluh pertanyaan  memenuhi sel abu-abu dalam kepalaku sejak dulu. Tapi kali ini, hanya satu yang ingin kutanyakan padamu.  “Kenapa ada pagi, siang, sore, dan malam? Kenapa mereka terus saja berganti? Tidak tahukah kau, kadang, aku hanya ingin lebih lama menghirup aroma embun di pagi hari. Atau menikmati bersantai di siang hari. Juga ingin lebih lama menikmati senja di sore hari. Dan tentu saja, memandangi langit gelap dengan segala macam hiasannya di malam hari. Tidak tahukah kau, kadang, aku hanya ingin menikmati salah satunya saja?”

Lalu kau tertawa keras. “Hei, apakah aku mengatakan sesuatu yang lucu?”

“Ya, kau lucu sekali. Ah tidak. Kau sekarah,”  ucapmu membuatku terdiam.

“Serakah? “ Aku bertanya dengan suara lirih. Bagaimana bisa?

“Tanya saja pada paagi, siang, sore, dan malam,” perintah semesta. “Mereka lebih tahu.”

Karena itu aku mengunjungi siang, berharap ia memberikan jawaban atas pertanyaanku. “Hei siang, tidak bisakah kau saja yang ada sepanjang hari? Agar aku bisa terus bersantai, berdiam diri di rumah. Berlindung dari matahari yang menyengat.”

Siang mengerutkan alisnya. Menatapku dengan tatapan yang tak bisa kubaca artinya. “Kau gila,” ucapnya membuatku terdiam. “Tanya saja pada sore. Aku tidak ingin menjawab pertanyaan konyol seperti itu.”

Dengan bersungut-sungut, aku mendatangi sore. Ah.. Biar kuberi tahu. Sore begitu wangi. Dan cantik. Aku benar-benar kagum melihatnya.  “Sore.. Aku sangat mengagumi senjamu. Tidak bisakah kau saja yang mengisi hari?” tanyaku dengan suara memelan.  Aku benar-benar tersihir oleh pesonanya.

Lalu sore  menggeleng dengan anggunnya. “Aku tidak ingin serakah. Apa kau tidak bosan menatapku terus? Coba tanyakan pada malam, mungkin dia mau mengabulkan permintaanmu,” ujar sore dengan suara yang sungguh merdu.

Maka aku mendatangi malam. Wajahku mulai suram sekarang. “Malam, apakah kau senang sekali jika saatmu berjaga datang?”

Malam tertawa pelan. “Tentu saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Lalu maukah kau saja yang menemaniku. Aku hanya mau satu,” pintaku tanpa menjawab pertanyaan malam sebelumnya.

Kemudian malam tersenyum. “Tidak bisa. Aku tidak bisa seperti itu,” ucap malam. Lalu pergi meninggalkanku. Begitu saja.

Maka aku menyeret langkahku, hampir putus asa mengunjungi pagi. Dingin, segar, dan hangat langsung menyergapku ketika aku mengunjungi pagi.

“Ada apa nak?” tanyanya lembut. Aku merasakan aura ibuku. Membuatku ingin berlari, menghambur dalam pelukannya.

“Aku hanya ingin satu yang menemaniku. Entah pagi, siang, sore, atau malam.  Tidak bisakah?”

Pagi tersenyum lembut. “Nak, rupanya kau tidak cukup memaknai kehadiran kami,” jawabnya membuatku mengerutkan kening. “Tidakkah kau merasa beruntung karena kami terus berganti?”

Aku diam. Berharap pagi melanjutkan.

Dan dia benar-benar melanjutkan. “Bukankah kami selalu membawa suasana yang berbeda? Kau tidak akan menyukai salah satu dari kami selamanya kan?”

Aku tetap diam. Maka, pagi kembali melanjutkan.

“Ketika kau membenci pagi, maka siang hadir. Berharap bisa menghilangkan kebencian itu. Ketika kau membenci siang, maka sore hadir dengan segala keindahannya.  Ketika kau terluka oleh senja, maka malam hadir. Berharap kau bisa menangis keras, menumpahkan segala kegundahanmu padanya. Dan ketika malampun tak bisa, aku, pagi, berharap bisa memberimu semangat untuk bangkit seiring bergantinya hari. Bukankah setiap pagi semua orang selalu  berdoa agar harinya lebih baik dari hari kemarin?”

Aku bergeming. Berusaha mencerna setiap penjelasan yang meluncur dari pagi.

“Ada beberapa hal yang tidak bisa kitaa cintai selamanya, Nak. Maka hadir pengganti yang berharap dapat pula kau cintai, atau berharap, setidaknya mampu mengobati lukamu, dapat menghadirkan kembali senyummu,” ucap pagi lalu melangkah meniggalkanku.

Untuk kalian yang merasa pedih akan sebuah perpisahan..
Percayalah akan datang pengganti..
Seperti apa yang dikatakan pagi..

Dari seseorang yang percaya bahwa perpisahan selalu membawa cerita bahagia pada akhirnya..


Kamis, 31 Januari 2013

Dari Sini, Untuk Tuan..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 18.20 0 komentar
Hai tuan..
Selamat pagi..
Bagaimana pagi tuan? Indahkah? Luar biasakah? Semoga saja..

Pagi ini, untuk kesekian kalinya saya tulis surat untuk tuan. Dari rumah saya.. Berkilo-kilo dari tempat tuan sekarang. Entah dimana..

Bukan.. Ini bukan surat cinta, Tuan.. Ini surat permohonan. Dari hati saya. Untuk tuan..
Tuan pasti sekarang sedang mengerutkan kening, atau menaikkan kedua alis. Tolong santai saja tuan. Ini bukan surat permohonan yang akan membuatmu menguras otak. Tidak. Tentu saja ini bukan surat seperti itu. Ini hanya.. Surat permohonan agar tuan tidak lagi mengusik hari saya. Agar tuan tidak lagi muncul terus-menerus dalam otak saya. Agar suara tuan tidak lagi mendengung di pendengaran saya. Agar tuan berhenti hadir dalam hidup saya.

Oh? Tuan sudah berhenti? Benarkah? Tapi kenapa tuan belum berheti menyakiti hati ini? Kenapa tuan belum berhenti tersenyum sinis dan memalingkan wajah dari diri ini? Sebegitu salahnyakah diri ini?

Tuan.. Dari kota ini, saya menulis surat permohonan ini. Melalui surat ini, saya berharap kita berhenti menyakiti satu sama lain. Mulai hari ini. Tuan lelah kan? Saya juga. Jadi mari kita bersama-sama mengakhiri semuanya. Secara baik-baik. Bukankah kita mengawalinya dengan baik pula? Bukankah sebenarnya, kita tidak pernah ingin saling menyakiti? Benar kan tuan? Tuan juga berpikiran sama kan? Tolong anggukan kepala saja. Saya tahu tuan tidak seburuk itu sampai ingin menghancurkan saya. Saya tahu tuan baik. Saya tahu..

Jadi begitu. Itu saja yang ingin saya katakan. Semoga tuan mau mengabulkan surat permohonan saya. Semoga semuanya lebih baik mulai hari ini. Semoga tuan mengerti..

Dari kota kecil ini saya menulis.. Dari tempat yang menenangkan hati. Dari tempat dimana saya tidak pernah kehausan cinta. Dari rumah saya..


Untuk tuan yang sedang menikmati indahnya embun pagi.
Disana.. Dimana saja..

Senin, 28 Januari 2013

Aku Ingin Kamu Tahu

Diposting oleh Your Sunday Morning di 06.40 0 komentar
Kamu, tahukah kamu tatapanmu menusukku? Tahukah kamu, setiap kali bertemu, aku tak pernah ingin memalingkan wajahku? Tak pernah ingin membuang mukaku? Andai kamu tahu. Andai kamu mengerti bagaimana perasaanku.

Kamu, tahukah kamu aku tak ingin kamu seperti itu? Mencelaku, menganggapku tidak memperdulikanmu. Tahukah kamu aku menangisimu yang seperti itu? Tahukah kamu aku tidak pernah ingin kamu seperti itu? Tahukah kamu aku selalu ingin kamu kembali, seperti dulu?


Kamu, aku hanya ingin kamu tahu. Bahwa aku selalu berdiri di sini. Menatap punggungmu. Berharap kamu akan tahu. Bahwa aku ada untukmu..

Dari seseorang yang terus berdebar menatap punggungmu..

#30HariMenulisSuratCinta

Kamis, 06 Maret 2014

Maaf..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 06.02 0 komentar
Sebenernya ini saya tulis supaya lega..
Karena seminggu ini, jujur aja saya merasa kacau sekali..
Iya. Banyak pikiran. Banyak deadline. Banyak jadwal.  Semuanya numpuk di kepala. Menuntut untuk diselesaikan. Akibatnya? Iya. Sering marah gajelas. Sering bikin orang bete. Jadi, ini surat maaf untuk semua orang yang sakit hati gara-gara kelakuan saya..

Untuk himpunan yang sering saya abaikan.. Maaaaaaaaaaaaaf.
Untuk tim PKM: Mas Agus, Mas Dimas, Putu, maaf banget belum bisa jadi pemimpin yang baik..
Untuk tim PKM Mas Risal: Maaf banget nget nget belum bisa bantu apa-apa sampai sekarang..
Untuk anak-anak AGEENT: Mungkin kalian tersinggung atau gimana sama kelakuanku. Jadi maaf banget. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaaaaaaaaf.
Buat orang-orang yang chat dan smsnya saya abaikan, maaf juga. Saya hanya tidak ingin menyakiti. Semoga kalian menghargai keputusan saya.
Buat temen-temen kos. Maaf sudah melalaikan janji main. Maaf sudah jadi orang sok sibuk. Maaf..
Buat layli. Maaf parah selalu lupa mampir.
Juga buat kamu juga. Maaf. Maaf. Maaf.

Semoga kalian semua mengerti..

Maaf untuk Kalian Semua..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 05.34 0 komentar

Sabtu, 15 Februari 2014

Dear My Future Husband

Diposting oleh Your Sunday Morning di 05.31 0 komentar
Selamat malam calon imamku..
Tunggu.. Tunggu..
Aku sedang tertawa keras membaca judul tulisanku ini..
Kenapa?
Karena aku bahkan tak tahu rupa penerima suratku ini..
Iya, kamu masih kabur calon imamku..
Kamu masih disembunyikan Allah sekarang..
Benarkan?
Tapi aku sungguh berharap kamu membaca surat ini sebelum membacakan ijab qabul untukku kelak..
Kenapa? Karena aku tidak ingin kamu menyesal memilihku..

Untuk calon imamku yang entah dimana sekarang..
Ada banyak sekali hal yang ingin kubagi denganmu..
Tolong baca pelan-pelan..
Baca dengan sabar dan teliti..
Supaya kamu benar-benar tahu seperti apa aku..

Untuk calon imamku,
calon mamummu ini nakal sekali..
Waktu SMA dulu sering dikeluarkan dari kelas gara-gara lupa mengerjakan PR..
Waktu SMP pernah masuk BK gara-gara menyiram teman saat ulang tahun..
Waktu SD sering disuruh berdiri di depan kelas gara-gara ramai sendiri waktu pelajaran..
Daaan sederet kenakalan lain yang tidak bisa calon makmummu tulis di sini..

Calon makmummu ini juga pikunan.
Keras kepala..
Cengeng..
Cerewet setengah mati..
Cemburuan..
Berantakan..
Tukang panik..
Phobia darah..
Pecinta drama..
Haha lihat, calon makmummu ini kekanakan sekali kan?

Untuk calon imamku,
calon makmummu ini benar-benar banyak kurangnya..
Kamu tahu? Calon makmummu ini masih sering bergosip dengan teman-temannya..
Kadang, masih mengumpat secara tak sengaja..
Juga masih belum bisa berhijab dengan benar..
Calon makmummu masih belajar sekarang..
Terus belajar memperbaiki dirinya..
Supaya nanti, saat kamu meminangku, aku sudah sedikit lebih pantas bersanding denganmu..

Calon imamku yang masih abu, kalau memang kamu jodohku, aku harap kamu mencintaiku dengan segala kekuranganku itu..
Semoga Allah menyegerakan semua yang baik itu ya..

Dari calon makmummu..

PS: Ternyata, di akhir surat ini air mataku mengalir deras, entah kenapa..




Senin, 10 Februari 2014

Jangan Lelah..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 18.50 0 komentar
Untuk yang selalu mendengar keluh kesah..
Untuk yang senantiasa melambungkan asa di tengah harapan yang menyisa..
Untuk yang selalu sabar menerima rengekan..

Hai!
Selamat pagi..
Sedang apa tan?
Aku rindu..

Mungkin ini akan jadi surat yang alay..
Tapi yah, aku memang rindu..
Dan kalau kamu pengen tau, iya aku menyesal Jumat kemarin..
Aku menyesal nggak menuruti apa yang kamu, dan teman-teman bilang kemarin..
Aku menyesal jadi batu..
Sekarang aku lagi mikir, mungkin otakku memang dibuat dari batu sampai aku sekeras itu..

Tan, terimakasih ya sudah selalu mau mendengar..
Terimakasih juga sudah mengajari untuk terus pengertian..
Yah, aku memang nggak pernah pengertian kan?
Kekanakan. Padahal umur udah tua..
Jadi gimana bisa orang-orang ngertiin aku?

Anyway tan, aku suka iri kamu  punya Gany..
Trust me, aku kaya liat pasangan di film-film romantis tiap liat kamu yang punya Gany..
Maksudku, aku iri kamu bisa sepengertian itu sama Gany..
Dan yah, iri karena Gany mau nunggu selama itu buat kamu..
Semoga aku juga bisa seperti kalian ya..
Aku tunggu undangannya..

Tan, sekali lagi terimakasih..
Jangan lelah mendengarku ya..

Dari temanmu yang cengengnya setengah mati..

PS: Harusnya aku gaperlu tanya kamu sedang apa. Sedang memikirkan Gany kan pastinya :p

#30HariMenulisSuratCinta

Minggu, 09 Februari 2014

Yang (katanya) Berhati Beku

Diposting oleh Your Sunday Morning di 19.32 0 komentar
Hai..
Selamat pagi..
Sedang apa?
Mengaduk-aduk ingatan masa lalu dalam segelas susu kah?
Atau tengah berpikir untuk membeli gelas dan cangkir baru untuk mengganti suasana?
Atau malah ingin terus menyimpan gelas dan cangkir lamamu sebagai kenangan?
Sebagai penanda bahwa, kamu pernah tertawa, tersenyum  malu-malu saat menggenggamnya?

Jangan tertawa..
Haha atau malah kamu sedang mencebik sekarang? Sambil mengerutkan kening bingung?
Entahlah..
Pikiranmu terlalu susah untuk dibaca..

Untu kamu yang (katanya) berhati beku..
Berhentilah sebentar..
Jangan sibuk berlari..
Jangan terus mencari..
Mungkin, saat kamu berlari kemarin, kamu melewatkan sesuatu..
Sesuatu yang tanpa sadar kamu cari..
Sesuatu yang mungkin menggenapkan yang hilang di hatimu..

Untuk kamu yang (katanya) berhati beku..
Percayalah, aku menahan tawa saat menulis ini..



Dari temanmu yang setengah galau..

PS: Sebenarnya aku nggak pernah percaya hatimu beku. Kamu yang nganterin telor ceplok waktu aku sakit. Ingat? :p


#30HariMenulisSuratCinta

Jumat, 07 Februari 2014

Jangan Bunuh Diri!

Diposting oleh Your Sunday Morning di 19.00 0 komentar
Untuk yang terus menerus memendam sakit..

Hai!
Pagi ini saya sedang ingin melihat ke bawah..
Untuk lebih bersyukur..
Untuk lebih menghargai segala rasa yang dianugerahkan Allah pada hambanya ini..

Sebelumnya, saya peringatkan dulu bahwa mungkin, surat ini akan bertele dan membosankan..
Tapi saya juga perlu mengingatkan, bahwa setelah membaca surat ini, insyaallah kita akan berpikir untuk lebih bersyukur..

Jadi begini, siang itu, setelah rapat himpunan jurusan saya, saya dan teman-teman bingung ingin melakukan apa..
Pulang ke kos, maka yang akan terbayang dalam otak kami semua adalah sekumpulan diktat kimia yang akan diujikan beberapa hari setelahnya..
Maka kami memutuskan untuk makan di suatu tempat yang..
Yah, mahasiswa banget lah.. Haha..

Dan karena saya memang cupu alias tidak bisa membawa motor, maka saya dibonceng oleh salah seorang teman saya..
Teman saya ini, yah bisa dibilang saya kagum dengannya..
Dia bukan orang Jawa, tapi sudah fasih sekali menggunakan bahasa Jawa..
Apalagi misuhnya.. haha
Oke, lupakan soal itu..

Sebelumnya saya harus menceritakan bahwa saya termasuk orang yang cerewet sekali sehingga sepanjang perjalanan yang memang lumayan jauh, saya dan teman saya (sebut saja Be) mengobrol ngalur ngidul soal banyak hal..
Salah satunya adalah tentang kisah percintaan si Be ini..

Be sekarang tengah berpacaran dengan seorang laki-laki yang kebetulan juga sejurusan dengan kami (sebut saja Al).
Be dan Al, pasangan yang serasi sekali menurut saya.
Hanya saja, sangat disayangkan mereka memiliki perbedaan yang mungkin tidak bisa ditolerir dalam sebuah hubungan.
Ya, benar.Agama.
Al penganut islam yang taat. Sementara Be, adalah seorang penganut Hindu yang juga taat terhadap aturan-aturan agamanya..


Be mengaku, Al adalah pacar ketiganya (kalau saya tidak salah ingat)..
Pacar pertamanya, baik sekali..
Be sayang sekali. Tapi sedihnya, Be malah ditinggalkan. Dan Bela frustasi sekali waktu itu..
Bahkan, saya kaget saat Be mengaku sempat melakukan beberapa percobaan bunuh diri..
Dari cerita itu saya percaya bahwa, yah ternyata patah hati memang bisa membelokkan pikiran jernih manusia..
Bahwa ternyata, percobaan bunuh diri karena gagal cinta itu benar-benar ada..
Tapi toh sampai sekarang si Be masih hidup..
Masih setia menyelipkan misuhnya di percakapan line kami..
Yang berarti Be masih punya sisa akal sehat yang membuatnya membatalkan semua aksi gilanya itu..

Pacar keduanya, Batu. Kita skip saja. Kalian pasti sudah mulai bosan kan?

Pacar ketiganya, si Al itu. Be menceritakan bahwa Al berbeda. Bawel tapi sangat perhatian. Dan saya bisa melihat bahwa Be sudah mengidap gejala cinta mati pada Al..
Tapi seperti yang saya bilang tadi, mereka berbeda..
Saya tidak ingin menyalahkan atau bagaimana..
Toh tidak pernah ada yang salah dengan mencintai, dan dicintai..
Karena saat memilih untuk jatuh, cinta tidak pernah bertanya pertanyaan seperti "Siapa Tuhanmu?" lebih dulu..
Toh juga ada banyak sekali pasangan dengan masalah yang sama di luar sana..
Dan mereka mencoba untuk tidak peduli..
Atau belum mau peduli..

Tapi ini sangat berbeda ketika masalah tersebut terjadi pada teman kita sendiri..
Seperti yang saya bilang tadi, Be dan Al adalah pasangan yang sangat serasi..
Bukan hanya saya, tapi saya yakin teman-teman lain juga mendoakan bahwa mereka akan berjodoh nanti..
Bahwa entah bagaimana caranya, mereka akan bersama seterusnya nanti..
Tidak berpisah seperti yang terus menerus dipikirkan Be..
Bahkan, yang membuat saya miris adalah ketika Be mangaku bahwa sekarang, doanya setiap hari adalah agar ia dan Al mati bersama sebelum benar-benar memutuskan berpisah..
Miris, dan entah bagaimana semua itu menohok saya dalam sekali..
Lihat.. Ternyata semua masalah saya tidak ada apa-apanya kan?
Ternyata saya masih harus banya-banyak bersyukur untuk semua yang saya punya..

Untuk Be yang terus-menerus tersakiti, saya harap kamu masih terus bertahan..
Saya harap kamu masih mau terus mencari jalan..
Saya harap kamu masih mau terus berusaha..
Hidup ini indah kan?







Kamis, 06 Februari 2014

Untuk Hati Yang Baik

Diposting oleh Your Sunday Morning di 01.45 0 komentar
Untuk hati yang baik, terimakasih sudah sabar menunggu..
Terimakasih sudah senantiasa melapangkan dada ketika semua emosi menderu..
Terimakasih sudah senantiasa mewujudkan selengkung senyum meski kamu membeku..
Terimakasih, belum mematikan semua rasa yang bersarang di dalammu..

Untuk hati yang baik, maaf membuatmu kepayahan belakangan ini..
Maaf karena semua kebimbangan tak bertuan ini..
Maaf untuk semua resah yang terus membayangi..

Untuk hati yang baik, aku bersyukur Allah menitipkanmu padaku..
Aku bersyukur, Allah memercayakanmu untuk bersarang dalam tubuhku..
Aku bersyukur, Allah memberikan hati sekuat kamu..

Untuk hati yang baik, Allah sudah berjanji menciptakan kamu berpasang-pasang..
Kamu tidak akan sendiri, nanti..
Jadi, kamu masih sabar menunggu kan?
Karena sepertinya, hati yang kamu tunggu masih sibuk bermain..
Masih sibuk mencari, sama seperti kamu..
Jadi, kamu masih akan tetap di sini kan?


#30HariMenulisSuratCinta

Rabu, 05 Februari 2014

Seperti apa?

Diposting oleh Your Sunday Morning di 02.25 0 komentar
Kadang, di sela-sela semua pemikiranku tentangmu, aku bertanya-tanya..
Seperti apa rasamu untukku?
Apakah seperti saat kamu membuka mata di minggu pagi?
Atau seperti saat selesai kuliah di jum'at malam?
Atau seperti manyesap teh di sore yang dingin?
Atau malah seperti saat kamu menghabiskan ice cream?

Kenapa?
Karena aku selalu suka saat-saat seperti itu..
Karena aku selalu tersenyum di saat-saat itu..
Karena aku selalu bahagia di saat-saat itu..

Dan aku hanya berharap, kamu mengingatku dengan cara yang menyenangkan seperti itu..
Dengan rasa bahagia seperti itu..
Aku hanya berharap..
Salah?

#30HariMenulisSuratCinta

Senin, 03 Februari 2014

Yang Berlarian Dalam Kepala..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 16.27 0 komentar


Selamat pagi..
Untuk kamu yang senantiasa berlarian dalam kepala..
Kamu yang senantiasa menjadi pengatur segala rasa..
Kamu, yang entah merasa atau tidak..

Apa kabar? Baikkah?
Seperti doa yang diam-diam kurapal..
Seperti rindu yang entah bagaimana selalu mewujud asa..

Aku di sini kalau kamu ingin tahu..
Aku berdiam disini..
Jadi jangan berlari hanya untuk kucari..
Aku di sini..
Jadi tidak bisakah kita tidak saling mendustai?
Jadi tidak bisakah kita tidak saling melukai?



Rabu, 22 Januari 2014

Untuk semua detikku yang entah kemana..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 01.17 0 komentar
Untuk semua detikku yang entah kemana..
Maaf, untuk menganggurkanmu begitu saja kemarin..
Maaf untuk menyia-nyiakannmu untuk menatap sesuatu yang senantiasa bergeming itu..
Menatap sesuatu yang selalu kuharap menyala, mengirimkan sedikit saja kabar dari ujung sana..

Untuk semua detikku yang entah kemana..
Sekali lagi maaf untuk tak mengindahkan semua tandamu..
Maaf untuk menutup rapat telingaku.
Maaf..
Sekarang bisakah kau kembalikan semuanya untukku?

Jumat, 28 Juni 2013

Sebuah Bingkai..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 05.39 0 komentar

Ini soal tawa yang kita sembunyikan rapat-rapat..
Ini soal cerita yang kita simpan diam-diam..
Ini soal harapan yang mulai memudar..
Ini soal asa yang kita kubur dalam-dalam..
Soal kita..
Yang tinggal waktu untuk menjadi kenangan..


Mungkin ini bingkai pertama dan terakhir kita..
Mungkin ini titik balik untuk menjadi kita sebelumnya..
Mungkin seperti inilah kita seharusnya..

Kita tak bisa mencetak kolase..
Hanya satu ini..
Aku hanya punya satu ini..
Akan kusimpan..
Untuk kukenang..
Dan kutertawakan suatu hari nanti..

Jumat, 10 Mei 2013

My Nineteen..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 00.48 0 komentar
Untuk sembilan belas tahunku yang luar biasa..

Terimakasih..
Untuk semua canda..
Untuk semua luka yang pernah ada..
Untuk semua pelajaran..
Untuk semua hal berharga yang ada..
Terlebih, untuk semua orang di sekelilingku yang luar biasa..

Terimakasih..
Tak ada kata lain yang mampu kuucapkan..

Terimakasih..
Untuk masa lalu, hari yang begitu indah ini, dan hari-hari di masa depanku nanti..

Terimakasih Ya Allah..
Terimakasih untuk semua harapan yang terus menopangku..
Untuk semua doa yang KAU jawab..
Yang KAU kabulkan lebih indah dari yang kumau..
Untuk waktu-waktu penantianku..

Terimakasi Ya Allah..
Telah menjadikanku pemimpi yang tak pernah lelah menanti..
Telah menjadikanku seperti ini..
Seorang Aginta Friska Mahartika yang tersenyum setiap hari..

Rabu, 01 Mei 2013

NOL

Diposting oleh Your Sunday Morning di 15.59 0 komentar


            Seperti bunga yang mengikuti arah matahari.. Seperti itulah rasaku.. Menuju hatimu..
            “Aku suka cewek yang menggerai rambutnya. Cantik. Anggun..”
            Aku membuka mulut beberapa saat, lalu menutupnya lagi. Balasan semacam ‘Menggerai rambut itu gerah, ribet.”  kutelan begitu saja. Kumakan sendiri. Karena aku tahu, besok tentu saja aku akan mengikuti apa maumu. Menggerai rambut panjangku..
Besoknya, ketika kamu melihat gadis dengan rok-rok panjang, kamu berkata lagi. “Perempuan yang pakai rok itu manis ya.. Keliatan dewasa.. Sedap dipandang mata.”
            Aku hendak membalas, ‘Pakai rok itu nggak bisa gerak bebas.”. Tapi lagi-lagi, kutelan sendiri kata-kata itu. Karena aku tahu, malam ini aku akan ke toko baju, membeli rok yang cantik, lalu memakainya besok.
Besoknya lagi, ketika kita makan di salah satu cafe, kamu berkata “High heels itu selalu membuat kaki perempuan berkali-kali lipat lebih indah.”
Kata-kata itu sudah hampir terlontar. ‘High heels itu menakutkan. Nggak bisa dipakai jalan cepat.’ Tapi sia-sia. Aku kembali memendamnya. Karena aku tahu, nanti malam pasti aku akan meminjam high heels ibuku. Lalu memakainya besok.. Untukmu..
Ya, selama ini, aku tak pernah lelah melakukan semuanya untukmu. Menelan, memendam sendiri inginku. Tapi sekarang aku bertanya-tanya. Kapan kamu akan melihatku?

Aku sedang menghitung waktu.. Menanti saat hatimu mempertimbangkanku..
            Suatu hari, Riena, salah satu temanku di kelas managemen, bertanya padaku. “Kania, kamu suka sama Azhar?”
            Aku diam sebentar, lalu tersenyum. Semua orang tahu tentang perasaanku itu. Kedekatan kami dua tahun ini menceritakan semuanya tanpa aku perlu repot-repot menjelaskan. Ya, semua orang. Kecuali Azhar sepertinya.
            “Kamu udah bilang sama dia?”
            Aku hanya menggeleng. Mengatakan padanya bahwa aku mencintainya? Yang benar saja!
            “Mencintai sendiri itu nggak pernah enak. Menyiksa. Mending kamu cepat bilang. Kalau dia nggak suka, kamu bisa mundur. Daripada jadi perkara.”
            Aku termenung mendengar perkataan Riena yang lumayan menohok barusan. Riena memang seperti itu. Ia jarang bicara. Tapi sedikit saja ia mengeluarkan suara, kata-katanya tajam dan langsung mengena. Tapi.. bukankah apa yang dikatakan Riena barusan ada benarnya? Bahwa jujur saja, mencintai sendiri itu tidak mudah.. Bahwa terkadang, mencintai sendiri itu melelahkan..
            Jadi apa yang harus aku lakukan? Menemui Azhar dan mengatakan semua yang kurasakan terhadapnya? Rasanya itu adalah hal terakhir yang ingin kulakukan di dunia ini.

Ketika senja.. Ketika hujan menebar aroma wanginya.. Ketika itulah kau datang..
            “Boleh aku duduk?”
            Aku mengangkat kepala dan menemukan seorang laki-laki dengan tubuh setengah basah berdiri di hadapanku. Di luar hujan sedang turun rintik-rintik. Mungkin laki-laki itu baru saja menerobos hujan.
            “Silahkan,” sahutku sambil menggeser posisi tubuhku. Tempat duduk lain di halte ini memang sudah penuh. Sebagian diisi orang-orang yang berteduh, menunggu hujan berhenti. Sepertiku.
            Laki-laki itu segera duduk. Tangannya langsung sibuk menekan-nekan tombol di ponselnya. Sesekali juga melirik jam tangannya. Terlihat sibuk sekali. Sama sekali tak memperdulikan tetes air yang jatuh dari bajunya yang setengah basah.
            “Ini.” Entah bagaima caranya, aku mengangsurkan sebungkus tissue pada laki-laki itu. Biasanya aku tak pernah begini. Entahlah.. Aku hanya merasa setidaknya ia perlu mengeringkan wajahnya yang kuyup karena air hujan.
            Laki-laki itu menatap sebungkus tissue itu dengan kening berkerut, kemudian menatapku sebentar. Sejurus kemudian ia meraih sebungkus tissue yang kuangsurkan. “Terimakasih,” ucapnya sambil tersenyum sekilas.
            Aku hanya menganggguk, lalu bemaksud kembali menekuni novel dalam pangkuanku. Tapi belum sempat niat itu terlaksana, mataku menangkap sesuatu yang sepertinya kukenal melekat pada laki-laki di sebelahku. Karena itu, aku kembali menoleh. Meneliti laki-laki di sampingku itu dengan seksama. Dan benar saja. Laki-laki itu mengenakan jaket himpunan jurusanku!
            “Manajemen UNAIR?”
            Laki-laki itu kembali menoleh. Dahinya berkerut samar mendengar pertanyaanku. “Iya.. Punya kenalan?”
            “Saya juga manajemen UNAIR.”
            Untuk sesaat, mata laki-laki itu membulat. Dan saat itulah aku menyadari bahwa laki-laki itu mempunyai warna bola mata cokelat muda yang indah sekali. Senada dengan kulitnya yang kecokelatan. “Oya? Angkatan berapa?”
            “2012,” sahutku pelan sambil berusaha menerka angkatan berapa laki-laki di sampingku ini.
            Laki-laki itu mengangguk-angguk. “Oh.. Pantesan kayak pernah lihat,” ujarnya lalu mengulurkan tangan. “Aku Azhar. Angkatan 2012 juga,” lanjutnya sambil tersenyum lebar.
            Untuk beberapa detik aku serasa tersihir dengan senyumannya. Sebelum akhirnya menjabat tangan besar yang hangat itu. “Kania.”
            Dan begitulah. Di tengah rintik hujan yang mulai menipis.. Di tengah aroma tanah yang ditinggalkan hujan.. Cinta mulai tersemai. Di hatiku. Entah bagaimana di hatinya..

Aku suka melihat pelangi dengan tumpukan warnanya.. Kau juga suka..
Aku suka membayangkanmu yang penuh warna saat melihatnya.. Apakah kau juga?
            “Zhar kamu udah ngerjain laporan managemen?” Aku bertanya sambil membolak-balik lembar-lembar laporan di tanganku.
            “Belum,” jawab Azhar singkat.
            “Sama sekali?”
            “Iya. Kan kita belum survey lokasi.”
            Dahiku mengernyit. Tunggu. Survey lokasi? “Itu kan tugas statistik.”
            Tak ada sahutan dari Azhar, membuatku mengangkat kepala. Dan yang kulihat setelahnya adalah pandangan Azhar yang mengarah pada satu titik. Tak ada kedipan dalam jangka waktu yang lama. Ketika aku mengikuti arah pandangannya dan mengetahui objek yang daritadi dipandanginya, dadaku mendadak sesak. Oksigen seakan lenyap dari peredaran. Dia.. Seseorang yang ditatap Azhar. Seseorang yang selalu ditatap Azhar. Seseorang yang ternyata, masih saja ada dalam pantulan matanya. Naira.. Mantan kekasihnya.
            Sudah setahun lebih Azhar putus hubungan dengan Naira. Waktu yang cukup lama untuk melupakan semuanya kurasa. Tapi ternyata aku salah. Bagi Azhar, waktu selama itu tak berarti apa-apa. Tak mengurangi sedikitpun rasanya untuk gadis itu. Tak mengurangi hasratnya untuk kembali bersama gadis itu. Dan tentu saja, tak membuatnya berpaling sama sekali.
            Yah, tentu saja. Untuk apa Azhar berpaling dari gadis sesempurna itu? Gadis yang membuat semua gadis di sekelilingnya menyimpan iri dalam hati karena kesempurnaanya. Tak usah dijelaskan seperti apa. Yang jelas, Naira adalah cerminan gadis sempurna yang seharusnya hanya ada dalam cerita-cerita fiktif, cerita-cerita yang kadang tak masuk akal.
            Aku menunduk dalam-dalam. Menyembunyikan mataku yang mulai basah. Sudah dua tahun aku mengenal Azhar. Yang artinya, sudah dua tahun pula aku menyimpan rasaku sendiri. Setahun pertama terlewati dengan sangat sulit karena Azhar masih bersama Naira. Yang artinya, aku harus pandai-pandai menjaga perasaan. Tahun kedua, setahun ini tepatnya, kurasa akan lebih mudah karena Azhar dan Naira putus hubungan dengan alasan yang tidak jelas. Tapi lagi-lagi, aku salah. Ini jelas tak lebih mudah dari sebelumnya. Mereka memang putus hubungan. Tapi pikiran Azhar justru semakin melekat pada Naira. Dan tentu saja, tak ada ruang untukku dalam pikirannya. Dan aku mencoba untuk sabar. Menunggu Azhar siap menerima cinta baru dalam hidupnya. Tapi belakangan ini aku sering bertanya-tanya. Sampai kapan aku harus menunggu?

Katanya, cinta tak pernah membuatmu menunggu..
Lalu disebut apa waktu yang selama ini kuhabiskan untukmu?
            “Kamu masih belum bilang ke Azhar soal perasaanmu?”
            Suara Riena mengusik lamunanku. Aku menarik napas pendek. Kesal. Kenapa belakangan ini Riena selalu memilih bangku di sebelahku? Masih banyak bangku lain!
            Aku diam saja. Memilih tak menjawab pertanyaannya.
            “Kamu nggak sedang menunggu kan? Menunggu Azhar mencintaimu maksudku,” ujar Riena.
            Bukan urusanmu! Sebenarnya itu yang ingin kukatakan. Tapi segera kuurungkan. Aku sedang kehilangan mood untuk melakukan apapun. Termasuk meladeni semua omong kosong Riena.
            “Cinta nggak pernah membuatmu menunggu. Kalau kamu merasa sedang menunggu, kamu nggak benar-benar mencintainya. Karena setidaknya, cinta tak pernah membuatmu merasa menunggu.”
            Aku masih diam mencerna kata-kata Riena barusan. Menunggu? Itukah yang kulakukan selama ini? Menunggu Azhar melihatku? Menungggu Azhar memberikan kesempatan untukku? Menunggu Azhar membuka hatinya untukku? Kalu bukan menunggu, lantas disebut apa semua waktu yang keberikan untuk Azhar? Disebut apa semua perubahan yang kulakukan untuk Azhar?
            “Harapan.. Semua waktu yang kamu berikan itu adalah harapan kalau kamu benar-benar cinta,” sahut Riena seakan tahu pertanyaan yang menari-nari dalam kepalaku. Aku jadi curiga kalau Riena ini sebenarnya adalah cenayang karena daritadi ia tahu apa yang sedang kupikirkan.
            “Mencintai sendiri itu sama dengan nol.” Riena kembali berujar, membuatku diam-diam mendengarkannya. “Sebanyak apapun kamu mengumpulkan angka nol, hasilnya sama saja. Sia-sia.”
            Aku terhenyak mendengar perkataan Riena. iena Kata-katanya barusan benar-benar menghujam tepat di ulu hatiku. Nyeri. Bukan karena tersinggung. Tapi nyeri karena aku menyadari bahwa apa yang dikatakan Riena adalah benar. Nyeri karena menyadari bahwa, memang apa yang kulakukan selama ini sia-sia. Bahwa mencintai sendiri itu tak ada gunanya. Bahwa selama ini aku hanya sibuk menunggu dan mengurusi hatiku yang tak juga terpaut. Bahwa aku ternyata tak pernah berusaha maju.
            “Katakan.. Atau berhenti sebelum terlambat,” pungkas Riena sebelum membuka diktat kuliahnya. Lalu seakan tenggelam di dalamnya.
            Angin bertiup pelan dari jendela besar di sebelahku yang tadi sengaja kubuka. Segar. Menyapu tetes-tetes keringat yang sempat mampir di ujung-ujung kulitku. Mataku menatap lurus Azhar yang sekarang tengah tertawa-tawa di barisan depan bersama beberappa teman lelakinya. Dan pikiran itu muncul di kepalaku. Cepat. Tegas. Meminta untuk segera dikerjakan.
            Akuu harus membuat keputusan. Sekarang. Seperti kata Riena, katakan.. atau berhenti sebelum terlambat..


Saat sendiri, aku selalu bertanya-tanya..
Kapan kau akan mengulurkan tanganmu padaku?
Menepis semua sepi di hatiku..
Saat jauh darimu, aku selalu bertanya-tanya..
Akankah kau merindukanku?
Seperti aku yang rasanya dicekik rindu setiap waktu..
Saat berdiri di hadapanmu..
Aku hanya berharap satu..
Semoga kau cepat melupakan masa lalumu..

Jumat, 12 April 2013

Membenciku Itu Mudah..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 05.06 0 komentar

Membenciku itu mudah..
Cukup acuhkan aku..
Maka aku akan hilang dari hidupmu..



Membenciku itu mudah..
Cukup palingkan wajahmu..
Maka aku akan melangkah meninggalkanmu..



Membenciku itu mudah..
Jangan tersenyum padaku..
Maka aku akan membeku, bisu, tak kuasa menyapamu..



Membenciku itu mudah..
Cukup cukup tinggalkan aku..
Maka aku akan diam di tempatku..
Tak kuasa menahanmu..


Membenciku itu mudah..
Begitu mudah hingga kau tak akan pernah merasa tengah membenciku..
Begitu mudah hingga kau tak akan merasa kehilanganku..
Begitu mudah, karena sesungguhnya, aku kasat mata bagimu..

Membenciku itu mudah sayang..
Karena aku hanya sepotong daun..
Sepotong daun yang akan gugur pada waktunya..
Lalu hilang tanpa meninggalkan rasa..

Aku.. Di belakangmu..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 04.46 0 komentar

Aku ada di belakang.. Kalau kau ingin tahu..
Aku ada di belakang.. Kalau kau ingin melihatku.
Aku ada di belakang.. Kalau kau ingin tersenyum padaku..

Kenapa aku ada di belakang?
Mudah saja. 
Karena aku ingin diam-diam melihatmu..
Karena aku ingin kau tak pernah tahu, seberapa sering aku melirik punggungmu..
Karena aku ingin kau tak pernah tahu, diam-diam aku masih berharap kau dan aku jadi satu..

Katakan aku bodoh.. Tolol..
Tapi memang seperti itulah aku..
Seperti itulah yang hatiku mau..

Maaf kalau aku lagi-lagi mengganggu..

Maaf kalau aku tak henti mengusik hidupmu..
Aku hanya ingin kau tahu..
Bahwa aku senantiasa berdoa..
Untuk harapan yang selalu kubilang semu..

Kamis, 07 Februari 2013

Mereka yang Menghangatkanku..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 16.25 0 komentar
Kali ini aku ingin menulis catatan kecil untuk mereka yang menghangatkanku beberapa bulan ini..
Sahabat, sekaligus keluarga baruku..
Mereka.. Tujuh orang sahabatku..

Jujur saja aku tidak tahu ingin menulis apa, dan bagaimana aku harus menulis untuk mereka..
Terlalu banyak yang ingin kukatakan..
Tapi tentu saja terimakasih adalah yang utama..

Terimakasih untuk hari-hari dalam lima bulan terakhir yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata..
Hari-hari penuh tawa, walau kadang terselip sedikit amarah dan air mata..
Tapi aku sangat sangat menikmatinya..

Terimakasih untuk semua cerita, semua rasa yang membuatku tak pernah kehilangan kehangatan di kota yang terkenal dengan suhu dinginnya ini..
Dan yang terpenting, terimakasih karena sudah mau bersamanku, mendengarkan ocehan tak pentingku, keluh kesahku, dan sering juga tangisku..
Terimakasih..
Andai saja aku punya kata selain itu..
Kata yang bisa mengungkapkan betapa aku merasa beruntung bisa bertemu kalian semuua..
Ya, kalian. Putu, Fira, Priska, Lia, Emak, Ifa, dan Nila..
Kata yang bisa mengungkapkan keindahan ditengah keberagaman..

Dari sahabat kalian yang tak pernah bisa diam..

Selasa, 05 Februari 2013

Dear Masa Depan..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 17.30 0 komentar



















Untuk masa depanku..
Apa kabar? Baik-baik sajakah?
Ah baiklah.. Aku memang tidak pandai merangkai kata pembukaan..
Coba katakan aku harus mengatakan apa..
Coba katakan aku harus bagaimana agar kau mau tersenyum kepadaku?

Begini saja? Benarkah? Ah.. Terimakasih sekali..


Masa depanku.. Bolehkah aku mengintip apa yang terjadi esok, lusa dan seterusya?
Bolehkah aku mengintip siapa yang akan kutemui esok? Bolehkah aku melihat silet-siluet orang yang kutemui esok? Dan ah.. bolehkah aku sedikit.. sedikit saja mengintip siapa orang yang Tuhan siapkan untukku?

Tidak boleh? Ah... Sungguh tak asik sekali dirimu..

"Agar harimu selalu menyenangkan.Agar kau tak kehilangan harapan.."

Ah.. Alasan yang bagus sekali. Tapi bukankah benar? Tuhan menciptakan kemarin, saat ini dan esok hari adalah untuk alasan tersebut bukan? Agar kita tidak pernah kehilangan harapan.. Agar hidup kita menyenangkan..

Untuk kalian yang selalu tersenyum mengyongsong datangnya pagi..

Minggu, 03 Februari 2013

Pertanyaan Untuk Semesta

Diposting oleh Your Sunday Morning di 16.26 0 komentar

Dear semesta, baik-baik sajakah dirimu?  Sehatkah? Mohon maafkan bila sesamaku membuat keadaanmu buruk.. Kudengar  es di kutub semakin memburuk.. Sungguh, aku meminta maaf mewakili sesamaku untuk itu.

Dear semesta. Aku mengirim surat hari ini bukan hanya untuk itu. Aku ingin bertanya padamu.  Berpuluh-puluh pertanyaan  memenuhi sel abu-abu dalam kepalaku sejak dulu. Tapi kali ini, hanya satu yang ingin kutanyakan padamu.  “Kenapa ada pagi, siang, sore, dan malam? Kenapa mereka terus saja berganti? Tidak tahukah kau, kadang, aku hanya ingin lebih lama menghirup aroma embun di pagi hari. Atau menikmati bersantai di siang hari. Juga ingin lebih lama menikmati senja di sore hari. Dan tentu saja, memandangi langit gelap dengan segala macam hiasannya di malam hari. Tidak tahukah kau, kadang, aku hanya ingin menikmati salah satunya saja?”

Lalu kau tertawa keras. “Hei, apakah aku mengatakan sesuatu yang lucu?”

“Ya, kau lucu sekali. Ah tidak. Kau sekarah,”  ucapmu membuatku terdiam.

“Serakah? “ Aku bertanya dengan suara lirih. Bagaimana bisa?

“Tanya saja pada paagi, siang, sore, dan malam,” perintah semesta. “Mereka lebih tahu.”

Karena itu aku mengunjungi siang, berharap ia memberikan jawaban atas pertanyaanku. “Hei siang, tidak bisakah kau saja yang ada sepanjang hari? Agar aku bisa terus bersantai, berdiam diri di rumah. Berlindung dari matahari yang menyengat.”

Siang mengerutkan alisnya. Menatapku dengan tatapan yang tak bisa kubaca artinya. “Kau gila,” ucapnya membuatku terdiam. “Tanya saja pada sore. Aku tidak ingin menjawab pertanyaan konyol seperti itu.”

Dengan bersungut-sungut, aku mendatangi sore. Ah.. Biar kuberi tahu. Sore begitu wangi. Dan cantik. Aku benar-benar kagum melihatnya.  “Sore.. Aku sangat mengagumi senjamu. Tidak bisakah kau saja yang mengisi hari?” tanyaku dengan suara memelan.  Aku benar-benar tersihir oleh pesonanya.

Lalu sore  menggeleng dengan anggunnya. “Aku tidak ingin serakah. Apa kau tidak bosan menatapku terus? Coba tanyakan pada malam, mungkin dia mau mengabulkan permintaanmu,” ujar sore dengan suara yang sungguh merdu.

Maka aku mendatangi malam. Wajahku mulai suram sekarang. “Malam, apakah kau senang sekali jika saatmu berjaga datang?”

Malam tertawa pelan. “Tentu saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Lalu maukah kau saja yang menemaniku. Aku hanya mau satu,” pintaku tanpa menjawab pertanyaan malam sebelumnya.

Kemudian malam tersenyum. “Tidak bisa. Aku tidak bisa seperti itu,” ucap malam. Lalu pergi meninggalkanku. Begitu saja.

Maka aku menyeret langkahku, hampir putus asa mengunjungi pagi. Dingin, segar, dan hangat langsung menyergapku ketika aku mengunjungi pagi.

“Ada apa nak?” tanyanya lembut. Aku merasakan aura ibuku. Membuatku ingin berlari, menghambur dalam pelukannya.

“Aku hanya ingin satu yang menemaniku. Entah pagi, siang, sore, atau malam.  Tidak bisakah?”

Pagi tersenyum lembut. “Nak, rupanya kau tidak cukup memaknai kehadiran kami,” jawabnya membuatku mengerutkan kening. “Tidakkah kau merasa beruntung karena kami terus berganti?”

Aku diam. Berharap pagi melanjutkan.

Dan dia benar-benar melanjutkan. “Bukankah kami selalu membawa suasana yang berbeda? Kau tidak akan menyukai salah satu dari kami selamanya kan?”

Aku tetap diam. Maka, pagi kembali melanjutkan.

“Ketika kau membenci pagi, maka siang hadir. Berharap bisa menghilangkan kebencian itu. Ketika kau membenci siang, maka sore hadir dengan segala keindahannya.  Ketika kau terluka oleh senja, maka malam hadir. Berharap kau bisa menangis keras, menumpahkan segala kegundahanmu padanya. Dan ketika malampun tak bisa, aku, pagi, berharap bisa memberimu semangat untuk bangkit seiring bergantinya hari. Bukankah setiap pagi semua orang selalu  berdoa agar harinya lebih baik dari hari kemarin?”

Aku bergeming. Berusaha mencerna setiap penjelasan yang meluncur dari pagi.

“Ada beberapa hal yang tidak bisa kitaa cintai selamanya, Nak. Maka hadir pengganti yang berharap dapat pula kau cintai, atau berharap, setidaknya mampu mengobati lukamu, dapat menghadirkan kembali senyummu,” ucap pagi lalu melangkah meniggalkanku.

Untuk kalian yang merasa pedih akan sebuah perpisahan..
Percayalah akan datang pengganti..
Seperti apa yang dikatakan pagi..

Dari seseorang yang percaya bahwa perpisahan selalu membawa cerita bahagia pada akhirnya..


Kamis, 31 Januari 2013

Dari Sini, Untuk Tuan..

Diposting oleh Your Sunday Morning di 18.20 0 komentar
Hai tuan..
Selamat pagi..
Bagaimana pagi tuan? Indahkah? Luar biasakah? Semoga saja..

Pagi ini, untuk kesekian kalinya saya tulis surat untuk tuan. Dari rumah saya.. Berkilo-kilo dari tempat tuan sekarang. Entah dimana..

Bukan.. Ini bukan surat cinta, Tuan.. Ini surat permohonan. Dari hati saya. Untuk tuan..
Tuan pasti sekarang sedang mengerutkan kening, atau menaikkan kedua alis. Tolong santai saja tuan. Ini bukan surat permohonan yang akan membuatmu menguras otak. Tidak. Tentu saja ini bukan surat seperti itu. Ini hanya.. Surat permohonan agar tuan tidak lagi mengusik hari saya. Agar tuan tidak lagi muncul terus-menerus dalam otak saya. Agar suara tuan tidak lagi mendengung di pendengaran saya. Agar tuan berhenti hadir dalam hidup saya.

Oh? Tuan sudah berhenti? Benarkah? Tapi kenapa tuan belum berheti menyakiti hati ini? Kenapa tuan belum berhenti tersenyum sinis dan memalingkan wajah dari diri ini? Sebegitu salahnyakah diri ini?

Tuan.. Dari kota ini, saya menulis surat permohonan ini. Melalui surat ini, saya berharap kita berhenti menyakiti satu sama lain. Mulai hari ini. Tuan lelah kan? Saya juga. Jadi mari kita bersama-sama mengakhiri semuanya. Secara baik-baik. Bukankah kita mengawalinya dengan baik pula? Bukankah sebenarnya, kita tidak pernah ingin saling menyakiti? Benar kan tuan? Tuan juga berpikiran sama kan? Tolong anggukan kepala saja. Saya tahu tuan tidak seburuk itu sampai ingin menghancurkan saya. Saya tahu tuan baik. Saya tahu..

Jadi begitu. Itu saja yang ingin saya katakan. Semoga tuan mau mengabulkan surat permohonan saya. Semoga semuanya lebih baik mulai hari ini. Semoga tuan mengerti..

Dari kota kecil ini saya menulis.. Dari tempat yang menenangkan hati. Dari tempat dimana saya tidak pernah kehausan cinta. Dari rumah saya..


Untuk tuan yang sedang menikmati indahnya embun pagi.
Disana.. Dimana saja..

Senin, 28 Januari 2013

Aku Ingin Kamu Tahu

Diposting oleh Your Sunday Morning di 06.40 0 komentar
Kamu, tahukah kamu tatapanmu menusukku? Tahukah kamu, setiap kali bertemu, aku tak pernah ingin memalingkan wajahku? Tak pernah ingin membuang mukaku? Andai kamu tahu. Andai kamu mengerti bagaimana perasaanku.

Kamu, tahukah kamu aku tak ingin kamu seperti itu? Mencelaku, menganggapku tidak memperdulikanmu. Tahukah kamu aku menangisimu yang seperti itu? Tahukah kamu aku tidak pernah ingin kamu seperti itu? Tahukah kamu aku selalu ingin kamu kembali, seperti dulu?


Kamu, aku hanya ingin kamu tahu. Bahwa aku selalu berdiri di sini. Menatap punggungmu. Berharap kamu akan tahu. Bahwa aku ada untukmu..

Dari seseorang yang terus berdebar menatap punggungmu..

#30HariMenulisSuratCinta
 

Your Sunday Morning.. Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipietoon Blogger Template Image by Online Journal